images

Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, Bapak Kepolisian Negara Republik Indonesia

Riwayat Hidup

1.

Nama Lengkap

:

Jenderal Polisi (Purn) Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo

2.

Jabatan

:

Jenderal Polisi (P)

3.

Tempat, Tanggal Lahir

:

Bogor, 7 Juni  1908

4.

Wafat

:

Jakarta, 24  Agustus  1993

5.

Tempat Pemakaman

:

Tanah Kusir, Jakarta Selatan

6.

Orangtua

-  Ayah

   -  Ibu

:

 

:

R. Martomihardjo (Purworejo, Jawa Tengah)

Kasmirah (Ciawi, Bogor, Jawa Barat)

8.

Istri

:

Bua’ Hadidjah Lena Mokoginta

(Menikah tahun 1932)

 

Riwayat Perjuangan

Pada tahun 1928 Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo aktif dalam pergerakan kepanduan bangsa Indonesia Jong Java dan melibatkan diri dalam perguruan rakyat Bogor dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.Pada tahun 1930 Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo mengikuti pendidikan kepolisian berupa aspirant commissaris van politie di Sukabumi dan merupakan satu-satunya Komisaris Polisi yang mencapai puncak karier sebagai Kepala Kepolisian Negara RI pertama.Pada tahun 1942 menjabat sebagai Komisaris Tingkat I di kantor Shucokan Jakarta dengan pangkat Itto Keishi sebagai bentuk kerja sama dengan Komandan Kompetai untuk kemakmuran bersama Asia Timur Raya.

Pada masa kemerdekaan dan revolusi fisik (17 Agustus 1945 – 30 November 1949) :

  • Sebagai Kepala Kepolisian Negara (KKN) pertama (29 September 1945 – 15 Desember 1959), mengemban amanat Presiden Soekarno agar membentuk polisi nasional dengan gagasan Struktur polisi Negara, watak polisi Negara dan falsafah hidup polisi Negara.
  • Menolak tawaran tentara sekutu agar Polisi Negara masuk civil police.
  • Memerintahkan anggota-anggota polisi untuk mengawal Presiden dan Wakil Presiden RI pada saat hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta.
  • Membenahi pendidikan dan menggagas Akademi Polisi Mertoyudan (17 Juni 1946).
  • Membentuk Pengawasan Aliran Masyarakat (PAM).
  • Membentuk Mobile Brigade sebagai bagian dari Kepala Kepolisian Negara.
  • Mengemban Misi Pemerintah ke Luar Negeri dan Anggota delegasi Konferensi Meja Bundar (1948 – 1950).

 

Dengan Surat Kuasa Wakil Presiden Mohamad Hatta, Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo diperintahkan untuk meninjau dan mempelajari bentuk, susunan dan perlengkapan kepolisian serta tugas-tugas diplomasi dalam rangka merebut simpati dunia internasional kepada Indonesia di Amerika dan Negara-negara lain yang dianggap berguna bagi pembangunan Kepolisian Negara RI. Pada saat berada di Bangkok, Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo mendengar terjadinya Pemberontakan PKI pada tanggal 18 September 1948 di Madiun yang dipimpin oleh Muso, namun Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo tetap melanjutkan tugas sesuai perintah dari Mohamad Hatta.

Pada tanggal 25 September 1949 Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo ditugaskan oleh Bung Hatta untuk kembali ke Indonesia dengan membawa dokumen-dokumen guna bermusyawarah dengan Presiden Soekarno yang baru kembali dari pembuangan di Bangka dan sudah berada di Yogjakarta. Selanjutnya Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo kembali ke Den Haag Belanda untuk bergabung dengan delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Bung Hatta untuk melakukan Konferensi Meja Bundar yang berlangsung tanggal 23 Agustus 1949 – 2 November 1949. Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo kembali ke Indonesia pada tanggal 11 Desember 1949 dan pada tanggal 16 Desember 1949 Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo menerima kembali jabatan Kepala Kepolisian Negara dari R. Soemarto.

Pada masa Republik Indonesia Serikat (27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950) :

  • Memimpin Kepolisian RIS sejak tanggal 11 Januari 1950.
  • Membentuk Jawatan Kepolisian Indonesia pada bulan Maret 1950.

 

Pada masa Demokrasi Parlementer (17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959), beliau membangun Kepolisian Nasional yang professional dan modern, yaitu:

Bidang Operasional :
  • Mendirikan Polisi Perairan dan Seksi Polisi Udara (Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. Pol. 4/2/3Um tanggal 13 Maret 1951 dan Surat Keputusan Perdana Menteri Nomor 510/P.M./1956 tanggal 5 Desember 1956).
  • Mendirikan Polisi Perintis (Order KKN No. Po. : 12/3/Sek tanggal 11 Maret 1952).
  • Mendirikan Polisi Lalu Lintas (Order KKN No. 22/XVI/1955 tanggal 22 September 1955).
  • Mendirikan Polisi Kereta Api (SK KKN Nomor 132/PNUK tanggal 26 Agustus 1957).
  • Membangun Polisi Wanita (Polwan tahun 1948).
  • Membangun Laboratorium Kriminal (1956).
  • Mendirikan NCB/Interpol (16 Agustus 1956).
  • Membentuk staf riset, staf keamanan pusat, dan biro anak-anak (1957).

Bidang Pembinaan :

  • Menyusun organisasi Kepolisian Nasional dengan membentuk Komisariat Kepolisian Daerah (PP No. 51/1958 tanggal 25 Oktober 1958 tentang Susunan Kepolisian Negara).
  • Mendirikan PTIK (1 September 1950)
  • Mendirikan Sekolah Commandant Reserse (1950)
  • Mendirikan Sekolah Montir dan Telekomunikasi (1950)
  • Pendidikan Bintara dan Tamtama (1950)
  • Pendidikan Inspektur Polisi (1951)
  • Sekolah Polisi Sukabumi (Juli 1952)
  • Pengiriman anggota Polisi untuk belajar ke luar negeri
  • Membentuk Dinas Kesejahteraan Jawatan Kepolisian Negara (19 Juni 1953)
  • Mengikrarkan Tri Brata sebagai pedoman hidup Polri (1 Juli 1959)
  • Lahirnya Panji-Panji Polri (2 Maret 1955)
  • Perkembangan Persatuan Pegawai Polisi Republik Indonesia (P3RI) (1951)
  • Mendirikan Persatuan Istri Polisi (Bhayangkari) pada tanggal 19 Agustus 1949)
  • Membenahi kesejahteraan anggota Polisi Republik Indonesia (1951).

Operasi Kepolisian dalam rangka menghadapi Pemberontakan :

  • DI/TII (1947 – 1957)
  • Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) tanggal 23 Januari 1950
  • Pemberontakan Andi Aziz di Sulawesi Selatan (1950)
  • Pemberontakan Republik Maluku Selatan (25 April 1950)
  • Pemberontakan PRRI/Permesta (1956 – 1958)

Operasi Kepolisian:

  • Kasus-kasus Spionage Jungschlaeger Schmidt
  • Peristiwa jatuhnya pesawat Cashmir Princess di Laut Cina Selatan (1955)
  • Pengawalan, pengamanan dan penjagaan KTT Asia Afrika di Bandung (1955)
  • Penanganan Peristiwa Cikini (1957)

 

Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo adalah model polisi yang memimpin kepolisian sejak awal berdirinya Negara RI hingga menjelang masuk ke sistem pemerintahan demokrasi terpimpin, karya agungnya adalah meletakkan dasar-dasar kepolisian nasional yang kokoh selama masa kepemimpinannya. Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo adalah seorang pemimpin yang mempunyai pandangan yang jauh ke depan. Sejak pengangkatannya sebagai Kepala Kepolisian Negara senantiasa berusaha membangun korps kepolisian yang bersifat nasional sebagai bagian dari susunan ketatanegaraan Indonesia.

Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo telah menjalankan tugas sebagai Kepala Kepolisian Negara yang dapat menjaga Kamtibmas, dan menegakkan hukum serta merupakan pejuang kemerdekaan yang menggerakkan seluruh anggota Kepolisian Negara untuk berperang melawan penjajah yang akan kembali menguasai Indonesia dengan menegaskan bahwa anggota Polisi adalah kombatan yang ikut berperang melawan penjajah. Pemikiran dan tindakan Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo dalam meletakkan fundamen struktur, watak, falsafah sebagai bangunan “kepolisian nasional” yang dibutuhkan bagi sebuah Negara merdeka dan berdaulat di tengah ancaman terhadap integritas Republik Indonesia di masa revolusi, perang dan pergolakan internal dalam negeri merupakan remember history. Kehadirannya telah membawa warna dan pengaruh yang harus diingat dan dicatat sebagai bagian dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia. 

Beliau ditetapkan sebagai Bapak Kepolisian Negara RI pada tanggal 14 Februari 2001 oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Sesuai UU No. 20 Tahun 2009, tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Pasal 25 dan Pasal 26. Kemudian Gelar Pahlawan Nasional dianugerahkan kepadanya oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November 2020 lalu, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional didasari atas Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 117 TK Tahun 2020 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.